Thursday, May 11, 2017

Boy Toy - aliaZalea

Judul : Boy Toy
Series : Pentagon Series
Penulis : aliaZalea
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal & Tahun Terbit : 384 hal, 25 April 2017
Sinopsis : Boy Toy
Review :

Lea adalah seorang dosen berumur 32 tahun. Hidup sendiri tanpa kehadiran orangtua membuat Lea menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa. Semenjak ditinggal pergi oleh pacarnya di hari pertunangan mereka, Lea menjadi trauma terhadap yang namanya 'komitmen'. Sampai saat ini ia tidak pernah tahu alasan mengapa Rainer mantan tunangannya memutuskan hubungan mereka secara sepihak. It's all good, until it goes bad. 

Sewaktu kunjungannya ke Bali untuk konferensi ilmiah, Lea tidak sengaja menginap di hotel yang sama dengan grup band ternama Indonesia yaitu Pentagon. Para personilnya terhitung masih muda, energik dan digandrungi para remaja. Berbeda dengan para remaja yang tergila - gila dengan Pentagon, bagi Lea, kehadiran mereka justru mengganggu konsentrasinya dalam mempersiapkan presentasinya. 

Kecelakaan kecil mempertemukan Lea dengan Taran, salah satu personil band Pentagon. Taran jatuh cinta pada pandangan pertama pada Lea, tapi bagi Lea, meskipun Taran berparas tampan dan berpenampilan menarik, tapi ia kelihatan sangat muda dan berondong abisss. . . . . .So it's a BIG NO buat Lea. Tapi Taran adalah laki - laki yang pantang menyerah. Beda umur bukan masalah, apalagi beda profesi. Lain halnya dengan Lea yang punya segudang 'what if', dan trauma yang masih membekas akibat gagalnya pertunangannya terdahulu.

Yang menjadi konsen saya selama baca buku ini adalah perkembangan karakter Lea. Salah satu alasan saya baca buku ini selain karena yang nulis adalah aliaZalea, yes, she is that good, adalah rasa ketertarikan pada cerita yang disuguhkan oleh penulis. Di zaman sekarang rasanya tidak heran lagi jika ada yang berpasangan dengan daun muda/brondong, meskipun terkadang pola pikir yang berbeda tentu akan menghasilkan penafsiran yang berbeda pula, seperti ada setuju dengan hubungan itu atau malah risih akan perbedaan umur tersebut.

Lea yang berprofesi sebagai dosen tentu punya suatu martabat yang harus dijaga di depan para mahasiswa - mahasiswinya, belum lagi harus menghadapi tekanan dari para fans fanatik Taran dan Pentagon yang mana kita tahu bisa sangat negatif komentarnya jika tidak suka terhadap pasangan artis yang mereka idolakan. Is that relationship worth to fight for? Met baca :)

PS : persahabatan para personil Pentagon patut diacungi jempol. Semoga cerita selanjutnya tentang Nico dan tetangganya yang 'nakal'.

Rating : 3/5

Sunday, March 5, 2017

Tentang Kamu - Tere Liye

Judul : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tebal & Tahun Terbit : 524hal, 30 Oktober 2016
Sinopsis : Tentang Kamu
Review :
Saya rasa saya sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada indahnya cerita Sri Ningsih. Tidak, cerita Sri Ningsih tidak terus menerus bahagia, dia jatuh bangun menghadapi hidup yang keras, berhasil dengan inovasi yang diciptakan namun gagal karena ada saja yang pihak - pihak yang iri pada keberhasilannya. 

Yuk, berkenalan dulu dengan sosok Sri Ningsih. Dia gadis yang kuat, pribadi yang sangat positif. Dia juga mempunyai jiwa pantang menyerah dan tidak takut dengan yang namanya kegagalan. Mungkin karena kebiasaannya dari kecil tidak dimanja, dan gigih dalam mengerjakan sesuatu, hal itu terbawa hingga ia dewasa dan ia bisa maju. 

"Aku sepertinya harus selalu menemukan hal baru, melangkah maju. Kompetisi bisnis ini tidak akan pernah mudah. Seperti gerobak dorong, itu akan ditiru orang lain, tapi kali ini aku akan berlari cepat di depan yang lain."
Lalu sebenarnya ada apa dengan Sri? Mengapa semua orang membicarakannya? Sri Ningsih meninggal dunia. Bukannya wajar jika seseorang yang sudah renta usianya meninggal? Well, memang itu sebuah siklus kehidupan yang dijalani setiap orang, begitu juga dengan Sri. Tapi tentu tidak semua orang, dan bahkan bisa jadi hanya Sri satu - satunya orang yang meninggalkan harta warisan berbentuk kepemilikan saham senilai satu miliar pounsterling kepada ahli warisnya yang belum diketahui siapa dan berada dimana. Tidak ada nama yang disebutkan, hanya sebuah surat keterangan yang menyatakan jika Sri adalah pemilik sah 1% surat saham di perusahaan besar. 

Adalah tugas dari Zaman Zulkarnaen selaku pengacara di sebuah firma hukum bernama Thompson & Co yang ditunjuk secara resmi oleh Sri Ningsih untuk menyelesaikan masalah warisan ini. Menelusuri setiap tempat yang pernah menjadi tempat singgah oleh Sri membuat Zaman mempelajari sejarah. Berkenalan dengan orang - orang yang mengenal Sri, membaca diary dan surat - surat yang dikirimkan Sri kepada temannya, berbagi cerita dengan mereka yang pernah menjadi bagian penting dari hidup Sri. 

Bagi Zaman menjadi pengacara bukan hanya semata - mata untuk mendapatkan profit, menjadi pengacara berarti berusaha menyambungkan benang kusut, dan mencari informasi demi informasi demi suatu kebenaran. 
"Selain bagiku, janji adalah janji, setiap janji sesederhana apa pun itu, memiliki kehormatan."
Saya pribadi sangat mengidolakan Sri Ningsih. Umur 25 tahun ia sudah memulai usaha bisnisnya dan cukup berhasil meraup keuntungan, Ia tidak menutup diri pada setiap kemungkinan dan terus maju meskipun kebanyakan wanita pada umumnya mungkin akan berdiam diri di rumah dan membiarkan suami mereka yang bekerja. Tapi tidak dengan Sri yang mentalnya sekeras baja. Dia sebatang kara, siapa lagi yang bisa diandalkan kalau bukan dirinya sendiri. She is such an inspiration!
"Memulainya lagi dari nol mungkin akan membuatku lebih memahami banyak hal, lebih pandai bersyukur."
Buku ini adalah salah satu bacaan terbaik di awal tahun 2017. I believe more to come, dan mudah - mudahan ada buku - buku lain yang seluarbiasa buku ini dari penulis Indonesia lainnya. Untuk rating, nggak perlu ditanya lagi, tentu big fat five stars. Dengan tebal 524 halaman, buku ini tergolong berat, cetakan tulisannya besar, dan setiap babnya mampu membiusku untuk terus mendalami kehidupan Sri Ningsih. 

Suatu kehormatan bisa mengenalmu, Sri Ningsih. Izinkan saya mengacungkan jempol setinggi - tingginya, mengangkat topi saya, dan sujud sembah kepada karyamu ini, Tere Liye. Saya belum membaca semua karyamu, tapi firasat saya berkata kalau ini adalah yang terbaik dari yang terbaik. Yang terus saya pikirkan selama membaca buku ini adalah semoga ada produser film yang tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Buku ini patut mendapatkan banyak penghargaan. 

Rating : 5/5

Sunday, February 26, 2017

Badminton Addict - Stephanie Zen


Judul : Badminton Addict
Penulis : Stephanie Zen
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal & Tahun Terbit : 272 hal & 5 Mei 2016
Sinopsis : Badminton Addict
Review :
Jatuh cinta itu 'kata orang' berjuta rasanya. Apalagi jatuh cinta pada pandangan pertama. Tanpa tahu siapa dia, apa latar belakangnya, bagaimana bibit bebet bobotnya. You just fell in love. Claudia jatuh cinta pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya, di tempat yang dikunjunginya mungkin hanya dalam setahun sekali, dan dalam perjalanannya ke toilet pula. Silly things, but it happened. 

Yang baca buku pertamanya Badminton Freak tentu tahu Fraya dan Edgar. Nah Badminton Addict ini bercerita tentang Claudia, adiknya Fraya. Claudia yang sedang kuliah di Singapore pun diajak kakaknya untuk menonton pertandingan badminton yang digelar di negeri Singa Putih tersebut. Karena punya calon kakak ipar yang adalah pemain bulu tangkis, Claudia punya free access ke stadium. 

Di sanalah Claudia bertemu dengan Max, salah satu pemain ganda putra terbaik yang dimiliki oleh pelatnas saat ini. Langsung deh Claudia kesengsem dengan Max, terlebih setelah melihat Max membantu menenangkan anak kecil yang sedang menangis. Tapi secara tidak terduga, Aya kakak Claudia malah menentang rasa sukanya pada Max. Masa lalu Max menjadi salah satu alasan Aya tidak menyukai Max. Rasa tidak sukanya itu pun didukung oleh Edgar pacarnya yang menyebut Max sebagai bad boy nya pelatnas. 
"Orang yang meragukanmu di saat kamu paling membutuhkannya untuk percaya bukanlah orang yang tepat untuk berada di sisimu."
Semua yang diucapkan oleh Aya dan Edgar berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan pada Max. Memang kalau sudah jatuh cinta, mata kita seolah tertutup dan telinga kita seakan tak bisa mendengar hal - hal buruk yang diceritakan kepada kita. Experience is the best teacher. Bukan dari kata - kata tapi pengalamanlah yang mampu mengajarkan kita untuk lebih dewasa. 

Konflik di buku ini khas remaja. Saling suka tapi tidak berani mengutarakan, punya perasaan menggebu - gebu, merasa selalu tahu dan benar, dll. Saya suka dengan cara penulis menyampaikan pesan moral di buku ini. Sedikit banyak, saya punya pengalaman yang mirip dengan Claudia. Didekati karena status 'anak kepala sekolah'. Ada yang taruhan jika si A bisa ngedeketin saya dan bahkan berpacaran, then he wins the bet. Saya yang polos dan pure percaya dengan A tanpa tahu ternyata ada udang dibalik bakwan, agrees to date him. Baru deh setelah berpacaran, si A ngaku kalau saya dijadikan bahan taruhan dengan temannya. But what he feels is real, gitu kata doi. ya intinya doi menyesal, mengaku, dan berharap diberi kesampatan kedua. 
"There are always three sides in every story. Mine, yours, and the truth."
Membaca buku ini jadi mengingatkanku pada kegemaranku terhadap bulu tangkis. Seperti halnya Fraya, saya dulu suka menonton bulu tangkis di tv, dan berharap bisa bermain di pelatnas juga. haha. . sewaktu duduk di bangku sekolah, saya pernah mengambil ekstrakulikuler bulu tangkis tapi setelah tamat, aktivitas tersebut pun tidak dilanjutkan. Banyak yang dimimpikan, tapi ketika beranjak dewasa semuanya seolah menguap entah kemana. (maaf ya jadi curhat) And now~~ thanks to this book, menonton pertandingan bulu tangkis secara live di istora Senayan menjadi wishlist saya di 2017. Semoga bisa kesampaian! :) 

Rating : 4/5

Monday, February 20, 2017

Everything, Everything - Nicola Yoon

Judul : Everything, Everything
Penulis : Nicola Yoon
Penerjemah : Airien Kusumawardani
Tebal & Tahun Terbit : 336hal ; 1 November 2016
Sinopsis : Everything, Everything
Review :

"Aku masih hidup, Tapi aku tidak mau hidup."

Karena penyakit yang dideritanya, Madeline Whittier belum pernah meninggalkan rumahnya selama tujuh belas tahun. Betapa irinya ia pada anak - anak yang bisa bermain dengan leluasa tanpa harus mengkhawatirkan kondisi kesehatan mereka. Sejak kecil Madeline divonis mengidap penyakit langka yaitu SCID atau yang dikenal dengan Severe Combined Immunodeficiency. Penyebabnya? Tak ada yang tahu pasti, yang jelas hal - hal kecil dapat membuatnya sakit, begitu tutur ibunya yang berperan sebagai dokter pribadinya.

Hampir seumur hidupnya, Madeline hanya mengenal Ibu dan perawatnya Carla. Kenangan masa kecilnya tidak banyak, ia bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas kenangan yang ia miliki dengan ayah dan kakak laki - lakinya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Maddy, begitu panggilannya, juga belajar ilmu pengetahuan dengan gurunya via video call. Tapi ibunya-lah sumber informasi baginya. Segala sesuatu telah diatur untuknya, jadwal hariannya, makanannya, dan bahkan pakaiannya. Maddy hampir tidak pernah membuat keputusan untuk dirinya sendiri.

Segala sesuatunya berubah ketika ia kedatangan tetangga baru. Laki - laki yang membuatnya gelisah sekaligus penasaran hingga kerap bolak balik mengintip di balik tirai jendela. Bak remaja pada umumnya, Maddy begitu ingin berkenalan dengan laki - laki bernama Olly itu. Tapi Ibunya takkan pernah memberinya izin bertemu dengan orang lain tanpa terkecuali.
"Di dalam kepalaku aku tahu aku pernah jatuh cinta sebelumnya, tapi rasanya tidak seperti ini. Jatuh cinta padamu jauh lebih dari yang pertama kali. Rasanya seolah ini yang pertama dan terakhir dan sekaligus satu - satunya."
Tapi selama kita punya keinginan kuat, bukankah semuanya bisa kita lakukan? Maddy mencoba berbagai cara untuk bisa berkenalan dengan Olly, dan begitu juga sebaliknya. Tapi bukankah itu percuma jika setelah berkenalan ia akan jatuh cinta kepada Olly dan karena penyakitnya ia dan Olly hanya akan terluka karena tidak bisa bersama? 
"Hanya karena kau tidak bisa mengalami semuanya, bukan berarti kau tidak bisa mengalami apa pun. Lagi pula, cinta yang ditakdirkan untuk tidak bersatu adalah bagian dari hidup."
Buku ini seperti teka teki yang sulit ditebak. Pembaca seakan disihir untuk percaya setiap kalimatnya. Tapi ternyata banyak kejutan - kejutan yang mencengangkan. Saya suka dengan pribadi Maddy yang tidak mudah menyerah pada nasib. You go, girl!  Saya juga bersyukur bahwa di masa - masa sulitnya, Madeline tidak sendirian. Dia punya ibu yang begitu menyayanginya dan Carla, perawat yang sudah menganggapnya seperti anak sendiri.

Beberapa pesan Carla kepada Maddy yang saya suka :
1. "Luangkan sedikit waktu bersama ibumu. Pacar datang dan pergi, tapi ibu adalah milikmu untuk selamanya."
2. Bersikaplah baik kepada mamamu. Kau satu - satunya yang dia miliki."

Rating : 4/5

Sunday, January 29, 2017

Can't Let Go - Esi Lahur

Judul : Can't Let Go
Penulis : Esi Lahur
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal & Tahun Terbit : 312 hal, Maret 2015
Sinopsis : Can't Let Go
Review :
Denisa adalah seorang wartawan di sebuah perusahaan tabloid. Karena pekerjaannya, Denisa harus terjun langsung ke lapangan untuk meliput berita. Berita yang diliput pun beraneka ragam, mulai dari berita kecelakaan, bencana alam, dan lainnya. Denisa sendiri memiliki seorang pacar bernama Nigo yang adalah seorang aktivis hak buruh yang tidak punya pekerjaan tetap. Tujuannya baik, untuk membantu menyuarakan hak - hak masyarakat kecil. Akan tetapi tak jarang karena aktivitas yang tidak kenal waktu dan tempat itu menjadi hal yang membuat mereka bertengkar. 

Tak jarang pula Nigo meminjam uang kepada Denisa entah itu untuk keperluan pribadi maupun untuk  aktivitas sosialnya. Denisa sadar betul bahwa penghasilannya jauh diatas Nigo. Mereka pun bukan pasangan baru, sudah lima tahun lamanya mereka berpacaran, tapi belum ada tanda - tanda Nigo ingin melamarnya. Boro - boro melamar, untuk makan saja terkadang susah. 

"Nigo, aku mengumpulkan uang untuk beli rumah, mobil, dan kebutuhanku, atau untuk biaya menikah, bukan untuk membiayai buruh. Aku kekasihmu, bukan lembaga sosial." hahahaha GOOD JOB GIRL!

Dalam hubungannya dengan Nigo, banyak perbedaan yang membuat mereka sering kali berdebat. Beda pendapat itu wajar, justru terkadang malah asyik karena adanya perbedaan. Tentu akan sangat membosankan jika semua yang kamu ucapkan selalu mendapatkan jawaban yang sama yaitu, "ya, saya setuju.". Terkadang kita perlu berbeda pendapat agar kita bisa melihat suatu perbandingan. Belum tentu semua yang kita yakini itu benar dan belum tentu semua yang diucapkan lawan bicara kita itu salah.

Sebagai seorang wartawan, Denisa selalu berusaha bersikap profesional dengan memisahkan masalah pribadi dengan masalah kantor. Walau tidak suka menonton pertandingan sepak bola, Denisa tetap diminta meliput Massimo Rozzoni, atlit sepakbola blasteran Indonesia - Itali yang berparas tampan. Awalnya ia ogah - ogahan, tapi setelah bertatap muka dengan Massimo, rasanya meliput berita sepak bola bukanlah hal yang buruk. Hubungan yang tadinya hanya sebatas wartawan dengan atlit sepak bola pun perlahan menunjukkan kemajuan. Tapi apakah itu akan berhasil? Jarak antara mereka terlalu besar, Denisa yang hanya seorang wartawan tidak ingin hatinya hancur karena merasa hubungan mereka tak akan berhasil. Belum lagi hubungannya dengan Nigo belum selesai.

Banyak topik menarik yang diangkat dalam cerita ini, seperti kekerasan, penyuapan, hubungan rumit antara Denisa dengan Nigo yang lebih mementingkan pekerjaannya sebagai aktivis buruh, juga hubungan Denisa dengan Massimo yang tidak jelas kedepannya. It's definitely worth to read. 

Buku ini pun adalah buku pertama Esi Luhur yang kubaca. Secara keseluruhan, ceritanya menarik. Wartawan salah satu tabloid terkenal yang disukai oleh pesebakbola ternama dan ganteng pula. Such a dream comes true ya. Konflik yang dipaparkan pun tidak rumit, sayangnya imho di bab - bab awal terkesan lambat, dan eksekusi di akhir cerita malah terlalu singkat dan terkesan terburu - buru. 

Rating : 3/5